Senin, 15 Agustus 2011

Mengapa Do,a kita Belum Terkabul


Doa merupakan kewajiban yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Bahkan doa itu merupakan otak ibadah, seperti yang disabdakan olEh Rasulullah SAW: “Doa adalah otak ibadah.”
Sedangkan keharusan manusia berdoa itu tertuang dalam firman Allah SWT yang artinya: “Dan Tuhanmu berfirman; ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina-dina.” (Al Mu’min : 60).
Dalam ayat tersebut selain dijelaskan tentang kewajiban berdoa juga Allah akan mengabulkan doa ummatnya yang mau berdo’a. Masalahnya sekarang, kapan Allah akan mengabulkan doa itu, tidak ada kepastian secara jelas.Kita yakin bahwa dengan sifat qudrat dan iradah Allah, pasti Dia kuasa untuk mengabulkan doa dengan segera, KUN FA YAKUN. Seirama dengan sifat qudrat Allah itu, Allah juga bersifat Rahim, kasih sayang kepada hamba-Nya itu secara cepat, tidak dapat terlepas dari sifat Kasih SayangNya.
Oleh karena itu ada beberapa kemungkinan doa seseorang tidak segera dikabulkan oleh Allah SWT.

Diantaranya :

1. Kalau doa orang tersebut dikabulkan dengan segera, boleh jadi setelah mendapat dari doa yang diminta dia tidak mau berdoa lagi. Sebab hampir semua manusia mempunyai kebiasaan yang tidak baik itu. Setelah Allah mengetahui bahwa orang ini akan berhenti berdoa apabila sudah menerima yang diminta, maka Dia menunjukkan kasih sayangNYa tidak segera memberi permintaan hambaNya yang demikian.

2. Menurut Ilmu Allah, orang yang berdoa itu tidak mempunyai kemampuan untuk menerima apa yang diminta itu. Betapa banyaknya orang yang minta untuk menjadi orang kaya katanya untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi sudah setelah terkabul apa yang ia katakan waktu berdoa dulu itu lupa semua, dan bahkan kadang-kadang kekayaannya itu dipergunakan untuk memusuhi agama Allah. Salah seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Tsa’labah keadaannya sangat miskin, tetapi kehebatannya untuk beribadah terutama sekali sholat berjama’ah sulit untuk dicari bandingannya. Tetapi, setelah dia berubah menjadi orang kaya lantaran doa Rasul, ibadahnya dilupakan seluruhnya, bahkan mengeluarkan zakatpun tidak mau lagi. Dengan rahman Allah tidak segera dikabulkan doa lantaran kasih sayang kepadanya agar ia tidak terjerumus kelembah kehinaan lantaran menjauhkan diri kepada Allah.

3. Menurut Ilmu Allah, boleh jadi apa yang diminta oleh seseorang itu akan lebih manfaat kalau diberikan kepada anaknya, cucunya ataupun dzurriyahnya yang lain. Dengan demikian, kalau ada seseorang yang berdoa sekarang belum dikabulkan, boleh jadi permintaannya itu akan diberikan kepada dzurriyahnya. Karena dzurriyahnya itu yang tepat dan sangat membutuhkan sesuatu yang diminta itu.

Nabi Ibrahim yang hidup pada tahun 2018 SM, waktu pertama kali memasuki Mekkah yang masih merupakan lembah yang kering dan tandus, beliau berdoa : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S. Ibrahim : 37).

Ketiga kandungan doa Nabi Ibrahim yang tersurat dalam ayat tersebut terkabulnya jauh waktunya dari beliau berdoa. Dzurriyahnya banyak yang mendirikan sholat, orang-orang rindu ke Baitullah, dan Mekkah murah buah-buahan, terwujud kira-kira pada masa Nabi Muhammad SAW. Bahkan terutusnya Rasul terakhir Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib itupun berkat terkabulnya doa Nabi Ibrahim yang berbunyi: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah : 129).

Nabi Ibrahim AS. yang mendapat predikat Khalilullah, termasuk salah seorang Rasulullah dan bahkan termasuk salah seorang ulul azmi, dikabulkan doanya berselang kurang lebih dua setengah abad dari beliau berdoa. Apabila kita-kita ini yang katakanlah bila dibanding dekatnya Nabi Ibrahim kepada Allah dibanding kita, bukan bandingannya.

Ibrahim bin Adham seorang sufi yang hidup pada abad VIII M, pernah berpidato di hadapan jama’ah di Basrah, yang rata-rata mereka hampir putus asa dalam doa, lantaran sudah lama berdoa tetapi tidak terkabul.

Kata Ibrahim Adham:

“Doamu tidak dikabulkan Allah lantaran sepuluh perkara :

1. Kamu mengenal Allah, tetapi kamu tidak mendatangkan kewajiban kepada-Nya.
2. Engkau membaca Al-Qur’an, tetapi engkau tidak mengamalkan kandungannya.
3. Engkau mengatakan menjadi musuh syetan, tetapi engkau mengikuti dan bersesuaian dengan syetan.
4. Engkau mengatakan menjadi Umat Nabi Muhammad SAW, tetapi engkau tidak mengikuti jejaknya.
5. Engkau berkeinginan masuk surga, tetapi tidak mau beramal yang dapat menghantarkannya ke surga.
6. Engkau menginginkan selamat dari api neraka, tetapi engkau mencampakkan dirimu ke dalamnya.
7. Engkau mengatakan bahwa mati itu pasti, tetapi engkau tidak mau mempersiapkan bekal untuk mati.
8. Engkau sibuk meneliti cela kawan-kawanmu, tetapi engkau tidak mau memperhatikan cela dirimu sendiri.
9. Engkau makan ni’mat dari Tuhamu, tetapi engkau tidak pernah bersyukur kepadanya.
10. Engkau ikut mengubur orang mati, tetapi engkau tidak dapat mengambil I’tibar (pelajaran) dari peristiwa itu.

Maka setiap orang yang berdoa dan menginginkan doanya segera terkabul hendaknya bercermin kepada Rasulullah SAW. Bagaimana beliau berdoa. Sesudah itu harus pula mengetahui dan memenuhi etika dan estetika berdoa.
Tentang etika dan estika berdoa itu antara lain dibentangkan secara panjang lebar dalam kitab Al Adzkar oleh Imam An Nawawi, dan Kitab Tukhafatuhdz Dzakirin oleh Asy Syaukani. Maupun kitab-kitab yang lain.

Sesudah itu, camkan benar-benar uraian di atas. Saudara akan dapat menjawab di mana letak kesalahan doanya sehingga tidak atau belum terkabul. Pada akhirnya nanti pasti akan sadar bahwa tidak segera terkabulnya doa itu faktornya berada pada diri orang yang berdoa, bukan berada pada Allah.

Juga sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam berdoa, ialah bahwa kita itu “minta” atau “memohon” kepada Allah, bukan “menodong”. Camkanlah itu semuanya, Insya Alah doa kita akan didengar dan dikabulkan Allah. Amin, ya Robbal’alamin.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar