Tuhanku.aku memohon kepada-Mu.
Kiranya Engkau berkenan menjaga diriku.
Sehingga,aku tidak lagi menentang-Mu.
Sungguh ,aku bingung dan ketakutan.
Karena banyaknya dosa dan kemaksiatan.
Bersamaan dengan banyaknya anugrah dan kebaikan-MU.
Lidahku telah kelu karena banyaknya dosaku.
Telah hilang wibawa wajahku
Maka dg wajah yg mana aku harus menemui-Mu.
Setelah dosa-dosa membuat wajahku muram?
Dengan lidah yang mana aku hrs menyeru-Mu.
Setelah maksiat membuat lidahku bungkam?
Bagaimana mungkin aku menyeru-MU PADAHAL AKU PENDOSA.?
Bagaimana mungkin aku tidak menyeru-MU.
Padahal ,Engkau Maha Pemberi karunia?
Bagaimana aku bisa bergembira padahal aku pendosa?
Bagaimana aku berduka,padahal Engkau Pemberi Anugrah?
Bagaimana aku menyeru-Mu padahal aku ,
aku?
Bagaimana aku tidak menyeru-Mu padahal ENGKAU, ENGKAU?
Bagaimana aku bergembira padahal aku telah melawan-Mu?
Bagaimana aku berduka, padahal aku mengenal-Mu?
TAPI………
Bagaimana mungkin seorang hamba tidak menyeru junjungannya?
Kemana ia harus berlari dan berlindung jika ENGKAU MENGUSIRNYA??
Itu adl sebuah pengakuan bahwa kita takut menghadap TUHAN Karena begitu baiknya DIA kepada kita.
Sekaligus begitu jahatnya kita.
Sebab,kita Tidak membalas kebaikan TUHAN dg kebaikan,
MALAH KITA MEMBALASNYA DG DOSA.
By Mutiara Timur
Selasa, 16 Agustus 2011
Senin, 15 Agustus 2011
"HIKMAH"
Terkadang Allah melapangkanmu, agar kau tak tenggelam dalam kesempitan..
terkadang Allah menyempitkanmu, agar kau tak hanyut terlena dalam kelapangan..
terkadang Allah melepaskanmu dari keduanya, agar kau tak bergantung kepada apa pun selain Allah..."
"Kadangkala Allah memberimu kesenangan dunia, namun tak memberimu taufik dan hidayah-Nya..
kadangkala Allah menolakmu dari kesenangan dunia, namun memberimu taufiq dan hidayah-Nya..."
"Ketika Allah membukakanmu pengertian (faham) tentang penolakan-Nya, maka penolakan-Nya itu niscaya berubah menjadi pemberian-Nya..."
(: dari "AL-HIKAM" Syeh Ibnu Atha'illah As-Sakandary)
PENGALAMAN TASAWWUF ALA HABIB LUTHFI BIN YAHYA
Berikut ini petikan wawancara crew Habibluthfiyahya.net dengan Al Habib Luthfi bin Yahya. Dalam wawancara kali ini Al Habib menjelaskan bagaimana tasuf dapat di aplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Apa pandangan-pandangan Al-Habib tentang tasawuf?
Tasawuf adalah pembersih hati. Dan tasawuf itu ada tingkatan-tingkatannya. Yang terpenting, bagaimana kita bisa mengatur diri kita sendiri. Semisal memakai baju dengan tangan kanan dahulu, lalu melepaskannya dengan tangan kiri.
Bagaimana kita masuk masjid dengan kaki kanan dahulu. Dan bagaimana membiasakan masuk kamar mandi dengan kaki kiri dulu dan keluar dengan kaki kanan. Artinya bagaimana kita mengikuti sunah-sunah Nabi. Itu sudah merupakan bagian dari tasawuf.
Bukankah hal semacam itu sudah diajarkan orang tua kita sejak kecil?
Para orang tua kita dulu sebenarnya sudah mengeterapkan tasawuf. Hanya saja hal itu tak dikatakannya dengan memakai istilah tasawuf. Mereka terbiasa mengikuti tuntunan Rasulullah. Seperti ketika mereka menerima pemberian dengan tangan kanan, berpakaian dengan memakai tangan kanan dahulu. Mereka memang tak mengatakan, bahwa itu merupakan tuntunan Nabi SAW.
Para orang tua kita dulu sebenarnya sudah mengeterapkan tasawuf. Hanya saja hal itu tak dikatakannya dengan memakai istilah tasawuf. Mereka terbiasa mengikuti tuntunan Rasulullah. Seperti ketika mereka menerima pemberian dengan tangan kanan, berpakaian dengan memakai tangan kanan dahulu. Mereka memang tak mengatakan, bahwa itu merupakan tuntunan Nabi SAW.
Tapi mereka mengajarkan untuk langsung diterapkannya. Kini kita tahu kalau yang diajarkannya itu adalah merupakan tuntunan Nabi. Itu adalah tasawuf. Sebab tasawuf itu tak pernah terlepas dari nilai-nilai akhlaqul karimah. Sumber tasawuf itu adalah adab. Bagaimana adab kita terhadap kedua orang tua, bagaimana adab pergaulan kita dengan teman sebaya, bagaimana adab kita dengan adik-adik atau anak-anak kita. Bagaimana adab kita terhadap lingkungan kita.
Bagaimana sikap kita berada di tengah-tengah lingkungan masyarakat yang sudah carut maut?
Mampukah ketika kita berhadapan dengan lingkungan yang demikian itu? Ketika kita asik-asiknya bergurau, maka berhentilah sejenak. Kitakoreksi apakah ada sesuatu yang kurang pantas? Agar hal yang demikian itu tak dicontoh atau ditiru oleh anak-anak kita. Itu sudah merupakan tasawuf. Jadi dalam rangka pembersihan hati, bisa dimulai dari hal-hal kecil semacam itu.
Mampukah ketika kita berhadapan dengan lingkungan yang demikian itu? Ketika kita asik-asiknya bergurau, maka berhentilah sejenak. Kitakoreksi apakah ada sesuatu yang kurang pantas? Agar hal yang demikian itu tak dicontoh atau ditiru oleh anak-anak kita. Itu sudah merupakan tasawuf. Jadi dalam rangka pembersihan hati, bisa dimulai dari hal-hal kecil semacam itu.
Lalu kita tingkatkan dengan tutur sikap kita terhadap orang tua. Ketika kita makan bersama orang tua. Janganlah kita menyantap lebih dahulu sebelum bapak-ibu kita memulai dulu. Janganlah kita mencuci tangan dahulu sebelum kedua orang tua kita mencuci tangannya. Makanlah dengan memakai tangan kanan. Dan jangan sampai tangan kiri turut campur kecuali itu dalam kondisi darurat. Sebab Rasulullah tak pernah makan dengan kedua tangannya sekaligus. Ini sudah tasawuf.
Apa yang sebenarnya menarik dari Al-Habib, sehingga begitu getol menekuni dunia tasawuf?
Yang menarik, karena tasawuf itu mengajarkan pembersihan hati. Saya ingin mempunyai hati yang sangat bersih. Jadi tak sekedar bersih tidak sombong karena ilmunya, tidak sombong karna setatusnya, tidak sombong karena ini dan itu. Namun hati ini betul-betul mulus, selalu melihat kepada kebesaran Allah SWT yang diberikan kepada kita. Itu karena fadhalnya Allah SWT.
Yang menarik, karena tasawuf itu mengajarkan pembersihan hati. Saya ingin mempunyai hati yang sangat bersih. Jadi tak sekedar bersih tidak sombong karena ilmunya, tidak sombong karna setatusnya, tidak sombong karena ini dan itu. Namun hati ini betul-betul mulus, selalu melihat kepada kebesaran Allah SWT yang diberikan kepada kita. Itu karena fadhalnya Allah SWT.
Sehingga kita tidak lagi mempunyai prasangka-prasangka yang buruk, apalagi berpikiran jelek dalam pola pikir dan lebih-lebih lagi di hati. Sebab tasawuf itu tazkiyatul qulub, yakni untuk membersihkan hati. Jika hati kita ini bersih, maka hal-hal yang selalu menghalangi-halangi hubungan kita kepada Allah itu akan sirna dengan sendirinya. Sehingga kita senantiasa mengingat Allah.
Ibarat besi, hati kita itu sebenarnya putih bersih. Hanya karena karatan yang bertumpuk-tumpuk lantaran tak pernah kita bersihkan, sehingga cahaya hati itu tertutup oleh tebalnya karat tadi. Na’udzubillah kalau sampai hati kita seperti itu. koreksi apakah ada sesuatu yang kurang pantas? Agar hal yang demikian itu tak dicontoh atau ditiru oleh anak-anak kita. Itu sudah merupakan tasawuf. Jadi dalam rangka pembersihan hati, bisa dimulai dari hal-hal kecil semacam itu.Lalu kita tingkatkan dengan tutur sikap kita terhadap orang tua. Ketika kita makan bersama orang tua. Janganlah kita menyantap lebih dahulu sebelum bapak-ibu kita memulai dulu. Janganlah kita mencuci tangan dahulu sebelum kedua orang tua kita mencuci tangannya. Makanlah dengan memakai tangan kanan. Dan jangan sampai tangan kiri turut campur kecuali itu dalam kondisi darurat. Sebab Rasulullah tak pernah makan dengan kedua tangannya sekaligus. Ini sudah tasawuf.
Apa yang sebenarnya menarik dari Al-Habib, sehingga begitu getol menekuni dunia tasawuf?
Yang menarik, karena tasawuf itu mengajarkan pembersihan hati. Saya ingin mempunyai hati yang sangat bersih. Jadi tak sekedar bersih tidak sombong karena ilmunya, tidak sombong karna setatusnya, tidak sombong karena ini dan itu. Namun hati ini betul-betul mulus, selalu melihat kepada kebesaran Allah SWT yang diberikan kepada kita. Itu karena fadhalnya Allah SWT.
Yang menarik, karena tasawuf itu mengajarkan pembersihan hati. Saya ingin mempunyai hati yang sangat bersih. Jadi tak sekedar bersih tidak sombong karena ilmunya, tidak sombong karna setatusnya, tidak sombong karena ini dan itu. Namun hati ini betul-betul mulus, selalu melihat kepada kebesaran Allah SWT yang diberikan kepada kita. Itu karena fadhalnya Allah SWT.
Sehingga kita tidak lagi mempunyai prasangka-prasangka yang buruk, apalagi berpikiran jelek dalam pola pikir dan lebih-lebih lagi di hati. Sebab tasawuf itu tazkiyatul qulub, yakni untuk membersihkan hati. Jika hati kita ini bersih, maka hal-hal yang selalu menghalangi-halangi hubungan kita kepada Allah itu akan sirna dengan sendirinya. Sehingga kita senantiasa mengingat Allah.
Ibarat besi, hati kita itu sebenarnya putih bersih. Hanya karena karatan yang bertumpuk-tumpuk lantaran tak pernah kita bersihkan, sehingga cahaya hati itu tertutup oleh tebalnya karat tadi. Na’udzubillah kalau sampai hati kita seperti itu.
Lantas dari mana kita mesti memulai untuk pembersihan hati tersebut?
Ikutlah dahulu ajaran fiqih yang tertera dalam kitab-kitab fiqh. Seperti arkanus shalat (rukun-syarat sholat), lalu adabut shalat, adabut thaharah dan seterusnya. Marilah itu semua kita pelajari dan kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Ketika kita diundang untuk menghadiri acara walimah di sebuah gedung misalnya, maka kenakanlah pakaian yang bagus-bagus.
Ikutlah dahulu ajaran fiqih yang tertera dalam kitab-kitab fiqh. Seperti arkanus shalat (rukun-syarat sholat), lalu adabut shalat, adabut thaharah dan seterusnya. Marilah itu semua kita pelajari dan kita laksanakan dengan sebaik-baiknya. Ketika kita diundang untuk menghadiri acara walimah di sebuah gedung misalnya, maka kenakanlah pakaian yang bagus-bagus.
Sebab itu demi menghormat dan untuk menyaksikan kehalalan kedua mempelai di pelaminan. Untuk menghormati acara tersebut, kita menggunakan pakaian yang rapi. Sebab pada hakikatnya, kita telah menghormati Allah SWT yang telah menghalalkan hal tersebut.
Kita juga menghormati yang telah mengundang kita, serta menghormati sesama kita dalam gedung atau dalam jamuan tersebut. Kalau kita bisa menyaksikan aqdun nikah (akad nikah) secara demikian, mengapa kalau kita menghadap langsung kepada Allah SWT, tidak pernah melakukan penghormatan yang demikian itu?
A-Habib dikenal sebagai mursyid thariqah, tetapi kelihatan gemar memainkan alat musik?
Di sana kita akan menemukan kekaguman. Ilmullah yang ada dalam music itu sendiri. Diantaranya notnya itu hanya ada 7; do re mi fa sol la si do, do si la sol fa mi re do. Sedangkan oktafnya ada 7, suara miringnya 5, jadi ada 12. Yang memakai adalah di seliruh dunia, dan mengeluarkan lagu yang beragam. Itu merupakan satu hal yang sangat menarik.
Di sana kita akan menemukan kekaguman. Ilmullah yang ada dalam music itu sendiri. Diantaranya notnya itu hanya ada 7; do re mi fa sol la si do, do si la sol fa mi re do. Sedangkan oktafnya ada 7, suara miringnya 5, jadi ada 12. Yang memakai adalah di seliruh dunia, dan mengeluarkan lagu yang beragam. Itu merupakan satu hal yang sangat menarik.
Ketika orang mendengarkan musik, mereka bisa menangis dan tertawa, bersedih dan bersuka ria. Nah, yang berupa benda saja bisa menghasilkan efek semacam itu. Lantas bagaimana kalau kita tengah mendengar lantunan ayat Al-Qur’an sedang dibacakan? Mesti akan jauh lebih dari itu. (Ts/hly.net)
KEMATIAN YANG INDAH
Dari Seorang Sahabat..
...Bahan Renungan Untuk Anda, Sahabatku, yang mungkin terlalu sibuk bekerja...
Luangkanlah waktu sejenak untuk membaca dan merenungkan pesan ini...Alhamdulillah, Anda beruntung telah terpilih untuk mendapatkan kesempatan membaca ini.
Aktifitas keseharian kita selalu mencuri konsentrasi kita. kita seolah lupa dengan sesuatu yang kita tak pernah tau kapan kedatangannya.
Sesuatu yang bagi sebagian orang sangat menakutkan.Tahukah kita kapan
kematian akan menjemput kita???
Berikanlah waktu anda dan bacalah sampai habis, semoga dapat menjadikan
hikmah buat kita semua dan sadar, bahwa kita akan mati dan tinggal
menunggu waktunya,
semoga kita termasuk dlm orang2 yg khusnul khotimah.... amien.... .Tatkala masih di bangku sekolah, aku hidup bersama kedua orangtuaku
dalam lingkungan yang baik. Aku selalu mendengar doa ibuku saat pulang
dari keluyuran dan begadang malam. Demikian pula ayahku, ia selalu dalam
shalatnya yang panjang. Aku heran, mengapa ayah shalat begitu lama,
apalagi jika saat musim dingin yang menyengat tulang.
Aku sungguh heran, bahkan hingga aku berkata kepada diri sendiri :"Alangkah sabarnya mereka....setiap hari begitu...benar- benar mengherankan!"
Aku belum tahu bahwa disitulah kebahagiaan orang mukmin dan itulah
shalat orang2 pilihan. Mereka bangkit dari tempat tidurnya untuk munajat kepada Allah.Setelah menjalani pendidikan militer, aku tumbuh sebagai pemuda yang
matang. Tetapi diriku semakin jauh dari Allah padahal berbagai nasehat
selalu kuterima dan kudengar dari waktu ke waktu. Setelah tamat dari
pendidikan, aku ditugaskan di kota yang jauh dari kotaku.
Perkenalanku dengan teman2 sekerja membuatku agak ringan menanggung beban sebagai orang terasing. Disana, aku tak mendengar lagi suara bacaan Al-Qur'an. Tak ada lagi suara ibu yang membangunkan dan menyuruhku shalat. Aku benar-benar hidup sendirian, jauh dari lingkungan keluarga yang dulu kami nikmati. Aku ditugaskan mengatur lalu lintas di sebuah jalan tol.. Di samping menjaga keamanan jalan,tugasku membantu orang-orang yang membutuhkan bantuan. Pekerjaan baruku sungguh menyenangkan. Aku lakukan tugas-tugasku dengan semangat dan dedikasi tinggi. Tetapi, hidupku bagai selalu diombang-ambingkan ombak. Aku bingung dan sering melamun sendirian .... banyak waktu luang ... pengetahuanku terbatas. Aku mulai jenuh ... tak ada yang menuntunku di bidang agama. Aku sebatang kara. Hampir tiap hari yang kusaksikan hanya kecelakaan dan orang2 yang mengadu kecopetan atau bentuk-bentuk penganiayaan lain. Aku bosan dengan rutinitas.. Sampai suatu hari terjadilah sebuah peristiwa yang hingga kini tak pernah aku lupakan. Ketika itu, kami dengan seorang kawan sedang bertugas disebuah pos jalan.. Kami asyik ngobrol ... tiba-tiba kami dikagetkan oleh suara benturan yang amat keras. Kami mengedarkan pandangan. Ternyata, sebuah mobil bertabrakan dengan mobil lain yang meluncur dari arah yang berlawanan. Kami segera berlari menuju tempat kejadian untuk menolong korban. Kejadian yang sungguh tragis.Kami lihat dua awak salah satu mobil dalam kondisi kritis. Keduanya segera kami keluarkan dari mobil lalu kami bujurkan di tanah. Kami cepat2 menuju mobil satunya. Ternyata pengemudinya telah tewas dengan amat mengerikan.
Kami kembali lagi kepada dua orang yang berada dalam kondisi koma. Temanku menuntun mereka mengucapkan kalimat syahadat. Ucapkanlah
"Laailaaha Illallaah ..... Laailaaha Illallaah .." perintah temanku.. Tetapi sungguh mengerikan, dari mulutnya malah meluncur lagu-lagu. Keadaan itu membuatku merinding.. Temanku tampaknya sudah biasa menghadapi orang-orang yang sekarat ...Kembali ia menuntun korban itu membaca syahadat. Aku diam membisu. Aku tak berkutik dengan pandangan nanar. Seumur hidupku, aku belum pernah menyaksikan orang yang sedang sekarat, apalagi dengan kondisi seperti ini. Temanku terus menuntun keduanya mengulang-ulang bacaan syahadat.Tetapi keduanya tetap terus saja melantunkan lagu. Tak ada gunanya .... Suara lagunya terdengar semakin melemah .... lemah dan lemah sekali.. Orang pertama diam, tak bersuara lagi, disusul orang kedua tak ada gerak .... keduanya telah meninggal dunia. Kami segera membawa mereka ke dalam mobil. Temanku menunduk, ia tak berbicara sepatahpun. Selama perjalanan hanya ada kebisuan. Hening...
Kesunyian pecah ketika temanku mulai bicara...Ia berbicara tentang hakikat
kematian dan su'ul khatimah (kesudahan yang buruk). Ia berkata "Manusia akan mengakhiri hidupnya dengan baik atau buruk..
Kesudahan hidup itu biasanya pertanda dari apa yang dilakukan olehnya selama di dunia.
Ia bercerita panjang lebar padaku tentang berbagai kisah yg diriwayatkan dalam buku2 islam. Ia juga berbicara bagaimana seseorang akan mengakhiri hidupnya sesuai dengan masa lalunya secara lahir batin.Perjalanan kerumah sakit terasa singkat oleh pembicaraan kami tentang kematian. Pembicaraan itu makin sempurna gambarannya tatkala ingat bahwa
kami sedang membawa mayat. Tiba-tiba aku menjadi takut mati. Peristiwa
ini benar2 memberi pelajaran berharga bagiku. Hari itu, aku shalat khusyu' sekali. Tetapi perlahan-lahan aku mulai melupakan peristiwa itu. Aku kembali
pada kebiasaanku semula ... Aku seperti tak pernah menyaksikan apa yang
menimpa dua orang yang tak kukenal beberapa waktu yang lalu. Tetapi sejak saat itu, aku memang benar-benar menjadi benci kepada yang namanya lagu2. Aku tak mau tenggelam menikmatinya seperti sedia kala. Mungkin itu ada kaitannya dengan lagu yang pernah kudengar dari dua orang yang sedang sekarat dahulu. Kejadian yang menakjubkan !.Selang enam bulan dari peristiwa mengerikan itu .... sebuah kejadian menakjubkan kembali terjadi di depan mataku. Seseorang mengendarai
mobilnya dengan pelan, tetapi tiba-tiba mobilnya mogok di sebuah
terowongan menuju kota . Ia turun dari mobilnya untuk mengganti ban yang
kempes. Ketika ia berdiri dibelakang mobil untuk menurunkan ban serep,
tiba2 sebuah mobil dengan kecepatan tinggi menabraknya dari arah belakang. Lelaki itupun langsung tersungkur seketika.Aku dengan seorang kawan (bukan yang menemaniku pada peristiwa pertama)
cepat-cepat menuju tempat kejadian. Dia kami bawa dengan mobil dan segera pula kami menghubungi rumah sakit agar langsung mendapat penanganan. Dia masih sangat muda, wajahnya begitu bersih.Ketika mengangkatnya ke mobil, kami berdua cukup panik, sehingga tak sempat memperhatikan kalau ia menggumamkan sesuatu. Ketika kami membujurkannya di dalam mobil, kami baru bisa membedakan suara yang keluar dari mulutnya.
Subhannallah.. ! Ia melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an ... dengan suara amat lemah. Subhanallah ! dalam kondisi kritis seperti itu ia masih sempat melantun kan ayat-ayat suci Al-Qur'an ? Darah mengguyur seluruh pakaiannya, tulang-tulangnya patah, bahkan ia hampir mati. Dalam kondisi seperti itu, ia terus melantunkan ayat-ayat Al-Qur'an dengan suaranya yang merdu. Selama hidup, aku tak pernah mendengar bacaan Al-Qur'an se indah itu.Dalam batin aku bergumam sendirian "Aku akan menuntunnya membaca
syahadat sebagaimana yang dilakukan oleh temanku terdahulu ... apalagi
aku sudah punya pengalaman." aku meyakinkan diriku sendiri. Aku dan
kawanku seperti terhipnotis mendengarkan suara bacaan Al-Qur'an yang
merdu itu.
Sekonyong-konyong sekujur tubuhku merinding, menjalar dan menyelusup ke
setiap rongga. Tiba-tiba, suara itu terhenti. Aku menoleh kebelakang. Ku saksikan dia mengacungkan jari telunjuknya lalu bersyahadat. Kepalanya terkulai, aku melompat ke belakang. Kupegang tangannya, degup jantungnya, nafasnya, tidak ada yang terasa...
Dia telah meninggal. Aku lalu memandanginya lekat-lekat, air mataku menetes, kusembunyikan tangisku, takut diketahui kawanku. Kukabarkan kepada kawanku kalau pemuda itu telah meninggal. Kawanku tak kuasa menahan tangisnya. Demikian pula halnya dengan diriku. Aku terus menangis air mataku deras mengalir. Suasana dalam mobil betul2 sangat mengharukan. ...Sampai di rumah sakit .....Kepada orang-orang di sana , kami mengabarkan perihal kematian pemuda itu dan peristiwa menjelang kematiannya yang menakjubkan.
Banyak orang yang terpengaruh dengan kisah kami, sehingga tak sedikit yang meneteskan air mata.
Salah seorang dari mereka, demi mendengar kisahnya, segera menghampiri
jenazah dan mencium keningnya. Semua orang yang hadir memutuskan untuk
tidak beranjak sebelum mengetahui secara pasti kapan jenazah akan dishalatkan. . . Mereka ingin memberi penghormatan terakhir kepada jenazah. Semua ingin ikut menyolatinya.
Salah seorang petugas rumah sakit menghubungi rumah almarhum. Kami ikut
mengantar jenazah hingga ke rumah keluarganya. Salah seorang saudaranya mengisahkan, ketika kecelakaan, sebetulnya almarhum hendak menjenguk neneknya di desa. Pekerjaan itu rutin ia lakukan setiap hari senin. Disana almarhum juga menyantuni para janda, anak yatim dan orang-orang miskin.Allah Swt berfirman: "Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Dan
sesungguhnya pada hari kiamat sajalah disempurnakan pahalamu. Barang
siapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, maka sungguh
ia telah beruntung. Kehidupan dunia itu tidak lain hanyalah kesenangan yang memperdayakan. " (QS. Al-Imran:185)Rasulullah Saw telah mengingatkan dalam sabdanya, "Barangsiapa yang
lambat amalnya, tidak akan dipercepat oleh nasabnya."Saudaraku, siapa yang tau kapan, dimana, bagaimana, sedang apa, kita
menemui tamu yang pasti menjumpai kita, yang mengajak menghadap Allah
SWT.Orang yang cerdik dan pandai adalah yang senantiasa mengingat kematian
dalam waktu-waktu yang ia lalui kemudian melakukan persiapan persiapan
untuk menghadapinya.Note : amalkan ilmu, sampaikan walau satu ayat, salah satu amalan yang
terus mengalir walau seseorang sudah mati adalah ilmu yang bermanfaat.
Begitulah hendaknya engkau nasehati dirimu setiap hari karena engkau
tidak menyangka mati itu dekat kepadamu bahkan engkau mengira engkau
mungkin hidup lima puluh tahun lagi, Kemudian engkau menyuruh dirimu
berbuat taat, sudah pasti dirimu tidak akan patuh kepadamu dan pasti ia
akan menolak dan merasa berat untuk mengerjakan ketaatan.
Nasehat ini terutama untuk diri saya sendiri, dan saudara-saudaraku seiman pada umumnya.Orang Cerdas Adalah Orang Yang Mengingat Akan Kematian,
Semoga bermanfaat bagi kita semua, Amiin.....BEGINILAH PENILAIAN ORANG TERHADAP ORANG LAIN
Dalam hidup kita tak pernah lepas dari penilaian orang lain tentang diri kita, jika kita berbuat baik atau mengajak kepada kebaikan kita sering dikatakan sok alim, sok suci, sok benar dan lain sebagainya. Jika kita melakukan keburukan orang akan mencela, menghujat, mencaci dan lain sebagainya. Begitulah kita selalu serba salah dihadapan orang lain, tapi itu tak jadi masalah karena yang terpenting bagaimana penilaian Allah Swt terhadap kita.
Pernah aku mendengar suatu kisah yang mungkin kalian juga pernah mendengarnya tentang penilaian orang terhadap orang lain, dan semua yang dilakukan serba salah di mata orang lain, kisah ini tentang Lukmanul Hakim anaknya dan keledai
Suatu hari sang bapak, anak dan keledainya pergi, si anak naik di atas keledai dan si bapak menuntunnya, ditengah perjalanan mereka bertemu orang lain, lalu orang itu berkata: "Dasar anak kurang ajar enak-enakan naik keledai sedangkan bapaknya berjalan menuntun keledai". Mendengar perkataan orang itu akhirnya mereka berpindah tempat melanjutkan perjalanan, si bapak yang menaiki keledai dan si anak yang menuntunnya, ditengah perjalanan mereka bertemu orang lain, lalu orang itu berkata: "Dasar bapak tidak sayang sama anaknya enak-enakan naik keledai sedangkan anaknya berjalan menuntun keledai". Mendengar perkataan orang itu akhirnya mereka berdua naik keledai dan melanjutkan perjalanan, ditengah perjalanan mereka bertemu kembali dengan orang lain yang berkata: "Dasar bapak sama anak tidak punya rasa kasihan, keledai kecil dinaiki berdua". Mendengar perkataan orang itu akhirnya mereka berdua berjalan sambil menuntun keledai, ditengah perjalanan mereka pun bertemu kembali dengan orang lain yang berkata: "Bagaimana tuh bapak sama anak, bawa keledai bukannya dinaiki malah dituntun". Setelah empat kali mendengar perkataan orang lain si bapak berkata kepada anaknya: "Beginilah nak kalau kita selalu mendengarkan apa kata orang lain, kita tak pernah tau mana yang benar dan mana yang salah, semuanya salah"
Dari cerita tersebut kita bisa simpulkan bahwa penilaian orang lain hanya membuat kita menjadi serba salah, jadi selama yang kita lakukan benar di mata Allah Swt tak perlu kita hiraukan apa penilaian orang lain terhadap kita, terkecuali itu adalah sebuah kritikan yang dapat membuat kita untuk menjadi lebih baik lagi.
Dan kita sebagai seorang mukmin untuk selalu menjaga lisan sebagaimana sabda Rasulullah saw:
"Bukanlah orang mukmin orang yang selalu mencela mengutuk, berkata keji dan berkata kotor"
(HR Muslim)
**Bagi yang mau tag untuk sahabatnya atau untuk sendiri silahkan**
Pernah aku mendengar suatu kisah yang mungkin kalian juga pernah mendengarnya tentang penilaian orang terhadap orang lain, dan semua yang dilakukan serba salah di mata orang lain, kisah ini tentang Lukmanul Hakim anaknya dan keledai
Suatu hari sang bapak, anak dan keledainya pergi, si anak naik di atas keledai dan si bapak menuntunnya, ditengah perjalanan mereka bertemu orang lain, lalu orang itu berkata: "Dasar anak kurang ajar enak-enakan naik keledai sedangkan bapaknya berjalan menuntun keledai". Mendengar perkataan orang itu akhirnya mereka berpindah tempat melanjutkan perjalanan, si bapak yang menaiki keledai dan si anak yang menuntunnya, ditengah perjalanan mereka bertemu orang lain, lalu orang itu berkata: "Dasar bapak tidak sayang sama anaknya enak-enakan naik keledai sedangkan anaknya berjalan menuntun keledai". Mendengar perkataan orang itu akhirnya mereka berdua naik keledai dan melanjutkan perjalanan, ditengah perjalanan mereka bertemu kembali dengan orang lain yang berkata: "Dasar bapak sama anak tidak punya rasa kasihan, keledai kecil dinaiki berdua". Mendengar perkataan orang itu akhirnya mereka berdua berjalan sambil menuntun keledai, ditengah perjalanan mereka pun bertemu kembali dengan orang lain yang berkata: "Bagaimana tuh bapak sama anak, bawa keledai bukannya dinaiki malah dituntun". Setelah empat kali mendengar perkataan orang lain si bapak berkata kepada anaknya: "Beginilah nak kalau kita selalu mendengarkan apa kata orang lain, kita tak pernah tau mana yang benar dan mana yang salah, semuanya salah"
Dari cerita tersebut kita bisa simpulkan bahwa penilaian orang lain hanya membuat kita menjadi serba salah, jadi selama yang kita lakukan benar di mata Allah Swt tak perlu kita hiraukan apa penilaian orang lain terhadap kita, terkecuali itu adalah sebuah kritikan yang dapat membuat kita untuk menjadi lebih baik lagi.
Dan kita sebagai seorang mukmin untuk selalu menjaga lisan sebagaimana sabda Rasulullah saw:
"Bukanlah orang mukmin orang yang selalu mencela mengutuk, berkata keji dan berkata kotor"
(HR Muslim)
**Bagi yang mau tag untuk sahabatnya atau untuk sendiri silahkan**
Mengapa Do,a kita Belum Terkabul
Doa merupakan kewajiban yang harus dilakukan dengan sebaik-baiknya. Bahkan doa itu merupakan otak ibadah, seperti yang disabdakan olEh Rasulullah SAW: “Doa adalah otak ibadah.”
Sedangkan keharusan manusia berdoa itu tertuang dalam firman Allah SWT yang artinya: “Dan Tuhanmu berfirman; ‘Berdoalah kepadaKu, niscaya akan kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembahKu akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina-dina.” (Al Mu’min : 60).
Dalam ayat tersebut selain dijelaskan tentang kewajiban berdoa juga Allah akan mengabulkan doa ummatnya yang mau berdo’a. Masalahnya sekarang, kapan Allah akan mengabulkan doa itu, tidak ada kepastian secara jelas.Kita yakin bahwa dengan sifat qudrat dan iradah Allah, pasti Dia kuasa untuk mengabulkan doa dengan segera, KUN FA YAKUN. Seirama dengan sifat qudrat Allah itu, Allah juga bersifat Rahim, kasih sayang kepada hamba-Nya itu secara cepat, tidak dapat terlepas dari sifat Kasih SayangNya.
Oleh karena itu ada beberapa kemungkinan doa seseorang tidak segera dikabulkan oleh Allah SWT.
Diantaranya :
1. Kalau doa orang tersebut dikabulkan dengan segera, boleh jadi setelah mendapat dari doa yang diminta dia tidak mau berdoa lagi. Sebab hampir semua manusia mempunyai kebiasaan yang tidak baik itu. Setelah Allah mengetahui bahwa orang ini akan berhenti berdoa apabila sudah menerima yang diminta, maka Dia menunjukkan kasih sayangNYa tidak segera memberi permintaan hambaNya yang demikian.
2. Menurut Ilmu Allah, orang yang berdoa itu tidak mempunyai kemampuan untuk menerima apa yang diminta itu. Betapa banyaknya orang yang minta untuk menjadi orang kaya katanya untuk mendekatkan diri kepada Allah, tetapi sudah setelah terkabul apa yang ia katakan waktu berdoa dulu itu lupa semua, dan bahkan kadang-kadang kekayaannya itu dipergunakan untuk memusuhi agama Allah. Salah seorang sahabat Rasulullah SAW bernama Tsa’labah keadaannya sangat miskin, tetapi kehebatannya untuk beribadah terutama sekali sholat berjama’ah sulit untuk dicari bandingannya. Tetapi, setelah dia berubah menjadi orang kaya lantaran doa Rasul, ibadahnya dilupakan seluruhnya, bahkan mengeluarkan zakatpun tidak mau lagi. Dengan rahman Allah tidak segera dikabulkan doa lantaran kasih sayang kepadanya agar ia tidak terjerumus kelembah kehinaan lantaran menjauhkan diri kepada Allah.
3. Menurut Ilmu Allah, boleh jadi apa yang diminta oleh seseorang itu akan lebih manfaat kalau diberikan kepada anaknya, cucunya ataupun dzurriyahnya yang lain. Dengan demikian, kalau ada seseorang yang berdoa sekarang belum dikabulkan, boleh jadi permintaannya itu akan diberikan kepada dzurriyahnya. Karena dzurriyahnya itu yang tepat dan sangat membutuhkan sesuatu yang diminta itu.
Nabi Ibrahim yang hidup pada tahun 2018 SM, waktu pertama kali memasuki Mekkah yang masih merupakan lembah yang kering dan tandus, beliau berdoa : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan sholat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rizkilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.” (Q.S. Ibrahim : 37).
Ketiga kandungan doa Nabi Ibrahim yang tersurat dalam ayat tersebut terkabulnya jauh waktunya dari beliau berdoa. Dzurriyahnya banyak yang mendirikan sholat, orang-orang rindu ke Baitullah, dan Mekkah murah buah-buahan, terwujud kira-kira pada masa Nabi Muhammad SAW. Bahkan terutusnya Rasul terakhir Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib itupun berkat terkabulnya doa Nabi Ibrahim yang berbunyi: “Ya Tuhan kami, utuslah untuk mereka seorang Rasul dari kalangan mereka, yang akan membacakan kepada mereka ayat-ayat Engkau, mengajarkan kepada mereka Al-Kitab dan hikmah serta mensucikan mereka. Sesungguhnya Engkau Yang Maha Kuasa lagi Maha Bijaksana.” (Al-Baqarah : 129).
Nabi Ibrahim AS. yang mendapat predikat Khalilullah, termasuk salah seorang Rasulullah dan bahkan termasuk salah seorang ulul azmi, dikabulkan doanya berselang kurang lebih dua setengah abad dari beliau berdoa. Apabila kita-kita ini yang katakanlah bila dibanding dekatnya Nabi Ibrahim kepada Allah dibanding kita, bukan bandingannya.
Ibrahim bin Adham seorang sufi yang hidup pada abad VIII M, pernah berpidato di hadapan jama’ah di Basrah, yang rata-rata mereka hampir putus asa dalam doa, lantaran sudah lama berdoa tetapi tidak terkabul.
Kata Ibrahim Adham:
“Doamu tidak dikabulkan Allah lantaran sepuluh perkara :
1. Kamu mengenal Allah, tetapi kamu tidak mendatangkan kewajiban kepada-Nya.
2. Engkau membaca Al-Qur’an, tetapi engkau tidak mengamalkan kandungannya.
3. Engkau mengatakan menjadi musuh syetan, tetapi engkau mengikuti dan bersesuaian dengan syetan.
4. Engkau mengatakan menjadi Umat Nabi Muhammad SAW, tetapi engkau tidak mengikuti jejaknya.
5. Engkau berkeinginan masuk surga, tetapi tidak mau beramal yang dapat menghantarkannya ke surga.
6. Engkau menginginkan selamat dari api neraka, tetapi engkau mencampakkan dirimu ke dalamnya.
7. Engkau mengatakan bahwa mati itu pasti, tetapi engkau tidak mau mempersiapkan bekal untuk mati.
8. Engkau sibuk meneliti cela kawan-kawanmu, tetapi engkau tidak mau memperhatikan cela dirimu sendiri.
9. Engkau makan ni’mat dari Tuhamu, tetapi engkau tidak pernah bersyukur kepadanya.
10. Engkau ikut mengubur orang mati, tetapi engkau tidak dapat mengambil I’tibar (pelajaran) dari peristiwa itu.
Maka setiap orang yang berdoa dan menginginkan doanya segera terkabul hendaknya bercermin kepada Rasulullah SAW. Bagaimana beliau berdoa. Sesudah itu harus pula mengetahui dan memenuhi etika dan estetika berdoa.
Tentang etika dan estika berdoa itu antara lain dibentangkan secara panjang lebar dalam kitab Al Adzkar oleh Imam An Nawawi, dan Kitab Tukhafatuhdz Dzakirin oleh Asy Syaukani. Maupun kitab-kitab yang lain.
Sesudah itu, camkan benar-benar uraian di atas. Saudara akan dapat menjawab di mana letak kesalahan doanya sehingga tidak atau belum terkabul. Pada akhirnya nanti pasti akan sadar bahwa tidak segera terkabulnya doa itu faktornya berada pada diri orang yang berdoa, bukan berada pada Allah.
Juga sesuatu yang tidak boleh dilupakan dalam berdoa, ialah bahwa kita itu “minta” atau “memohon” kepada Allah, bukan “menodong”. Camkanlah itu semuanya, Insya Alah doa kita akan didengar dan dikabulkan Allah. Amin, ya Robbal’alamin.
Langganan:
Postingan (Atom)
